Gunung Wurung merupakan sala satu gunung yang berada di daerah Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam bahasa Jawa gunung wurung memiliki arti ‘gunung separuh’ karena memang bentuknya yang berbeda dengan kebanyakan gunung yang ada dimana gunung Wurung tersebut tidak memiliki puncak.
Berdasarkan ilmu geologi, terbentuknya gunung Wurung tersebut disebabkan oleh munculnya magma dari dalam bumi yang hendak menerobos permukaan bumi namun terlanjur membeku dan muncul kepermukaan bumi hingga tidak memiliki puncak gunung.
Oleh sebab itu gunung tersebut seperti telihat separuh. Namun, warga sekitar daerah Kebumen percaya bahwa sebenarnya ada kisah sejarah asal mula terbentuknya Gunung Wurung tersebut, berikut kisahnya.
Pada jaman dahulu terdapat sebuah desa dengan tanah yang sangat datar. Tidak ada sedikitpun bukit atau gundukan tanah pada daerah tersebut. Masyarakat desa menginginkan adanya bukit atau gunung di daerah mereka tinggal.
Oleh sebab itu mereka berdoa kepada para dewa untuk membuatkannya gunung di desa mereka tersebut. Pada suatu malam, para petuah desa pergi kehutan untuk manjatkan doa.
Setelah para petuah dan beberapa warga desa berdoa kepada para dewa dengan khusu, keinginan merekapun dikabulkan oleh para dewa namun dengan satu syarat bahwa saat para dewa membangun sebuah gunung tidak boleh ada satu warga desapun yang melihatnya karena memang wujud mereka tidak boleh dilihat oleh manusia.
Para wargapun menyetujui persyaratan tersebut kemudian keesokan harinya mereka menemui para warga yang lainnya dan sang kepala desa memberitahukan kepada warganya agar saat menjelang malam hingga matahari terbit kembali tidak boleh ada satupun warga yang keliuar rumah untuk beraktivitas karena para dewa akan membangunsebuah gunung di daerah tempat meeka tinggal.
Merekapun menuruti perkataan kepala desa dan saat hari menjelang sore para warga masuk kerumah dan mengunci pintunya agar tidak ada satupun orang yang keluar rumah.
Saat malam menjelang, para dewa mulai turun dari langit dan membangun gunung yang diminta oleh para warga. Dewa-dewa tersebut saling bekerja sama membangun gunung dari bongkahan bongkahan batu dan tanahy yang disusun meninggi keatas hingga membentuk sebuah gunung.
Saat proses pembetukan puncak gunung dan hari sudah akan menjelang pagi yaitu subuh tepatnya, tiba- tiba ada seorang gadis yang keluar rumah dan hendak pergi ke sungai. Rupanya sang gadis tersebut tidak mengetahui pengumuman yang diberikan oleh kepala desa agar tidak keluar rumah.
Sang gadis pergi kesungai untuk mencuci beras yang akan dimasaknya. Saat diperjalanan alangkah terkejutnya sang gadis melihat rupa para dewa dan mengaanggapnya sebagai makhluk halus.
Sang gadispun berlari sambil meminta tolong dari beras yang ia bawa jatuh berhamburan ke tanah. Para dewa sangat kecewa dengan hal tersebut karena syarat yang telah dibuat dilanggar oleh salah satu warga.
Para dewa itu pun langsung menghentikan pekerjaan mereka yang belum selesai dan segera kembali ke atas langit. Sedangkan beras yang tumbah dan berserakan di atas tanah berubah menjadi batu.
Gunung yang telah dijanjikan tersebut tidak diselesaikan hingga mencapai bukit hanya sebagian atau separuh saja. Oleh sebab itu gunung tersebut diberi nama Gunung Wurung atau Gunung Separuh.

No comments:
Post a Comment